CARI DI SITUS PAK MARGOLANG

CARI DI GOOGLE

Senin, 19 Maret 2012

Hasil Musrenbangtan 2012


Adri Nelson, Dumai, 16 Maret 2012, Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tanaman Pangan dan Hortikultura se-Provinsi Riau dilaksanakan dari tanggal 13 s/d 16 Maret 2012 bertempat di Kota Dumai.  Pertemuan dibuka secara resmi oleh Gubernur Riau yang diwakili oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Pembangunan. Acara pembukaan ini dihadiri oleh Wakil Walikota Dumai, Ketua DPRD dan Anggota Muspida Kota Dumai, Kepala Dinas/Badan terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau dan Kabupaten/Kota se-Provinsi Riau, Tokoh masyarakat dan cendekiawan Kota Dumai, Ketua KTNA dan Gapoktan Kota Dumai. Sedangkan Narasumber berasal dari: Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau, Bappeda Provinsi Riau, Direktur Sayur-Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian RI (Dr.Ir.Yul Bahar), PT. Padi Energi Nusantara (Amrul Amir), PT. Alamanda Sejati Utama (Komar Mulia Wibawa), Kepala BPTP Provinsi Riau, Kepala Bidang dan Kepala UPT Lingkup Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau, dan Dinas Pertanian dari 12 Kabupaten/Kota.
Musyawarah Perencanaan Pembangunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau Tahun 2012 menghasilkan rumusan sebagai berikut :
1.    Berbagai isu utama yang berkembang saat ini untuk dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan di dalam proses penyusunan Rencana Anggaran Satuan Kinerja (RASK) Tahun 2013, di antaranya: (1) Perlunya upaya penguatan Ketahanan Pangan; (2) Percepatan pengurangan kemiskinan; (3) Perlunya upaya untuk meningkatkan keterlibatan dari semua pemangku kepentingan di dalam pembangunan; (4) Perlunya meningkatkan nilai tambah (value added) pemanfaatan potensi  dan peluang dari sumber daya alam, keuntungan jumlah penduduk, potensi industri dan pasar domestik yang besar; serta (5) Upaya-upaya pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan.
2.    Direktif Presiden RI pada Rapat Kerja III antara Presiden dan Para Gubernur Seluruh Indonesia bulan Januari 2011, masih relevan dan menjadi bahan pertimbangan di dalam pelaksanaan Musrenbangtan tahun 2013, diantaranya: 
a.    Meskipun dalam sistem perdagangan, kita bisa membeli atau menjual, tetapi untuk pangan kita harus menuju Kemandirian Pangan
b.    Lakukan upaya untuk mengatasi kenaikan harga pangan dan energi;
c.    Penciptaan iklim investasi yang baik;
d.     Pelaksanaan program pro rakyat dan pelayanan masyarakat.
3.    Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian Riau. Peran strategis tersebut digambarkan melalui kontribusi yang nyata melalui pembentukan modal; penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan bioenergi; penyerap tenaga kerja; sumber devisa negara; sumber pendapatan; serta pelestarian lingkungan melalui praktek usahatani yang ramah lingkungan.
4.    Pertumbuhan penduduk Provinsi Riau yang cukup tinggi yakni ± 3,53 %/tahun, akan menjadikan suatu tantangan bagi kita, khususnya bagi aparatur pertanian dalam memenuhi ketersediaan pangan di Provinsi Riau, dimana saat ini Provinsi Riau belum sepenuhnya mampu mencukupi kebutuhan berasnya. Dengan rata-rata konsumsi beras per kapita/tahun sebesar 104,25 kg, maka kebutuhan beras pada tahun 2011 sebesar 598.234 ton. Sedangkan produksi padi berdasarkan Angka Sementara (ASEM) 2011 diramalkan sebesar 535.799 ton setara dengan 337.018 ton beras, dengan demikian Provinsi Riau masih kekurangan beras sebesar 279.187 ton (-43,66 %).
5.    Fokus kegiatan Sub Sektor  Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau antara lain :
a.    Penambahan Luas Areal Tanam Padi seluas 100.000 ha pada tahun 2009-2013 melalui Operasi Pangan Riau Makmur (OPRM)
b.    Pengembangan Tanaman Buah-buahan melalui Gerakan Riau Menanam Buah (GERINAM BUAH) seluas 10.000 ha pada tahun 2011-2014.
c.    Upaya mengurangi  konsumsi  beras dan mendorong konsumsi pangan lokal melalui diversifikasi bahan pangan.
6.    Program Operasi Pangan Riau Makmur (OPRM) tahun 2009-2013 pada intinya merupakan kegiatan perluasan areal tanam padi seluas 100.000 ha yang disejalankan dengan peningkatan produktivitas,  dilaksanakan melalui  3 (tiga) kegiatan utama, yaitu : Peningkatan IP 100-200 seluas 68.108,10 ha; Rehabilitasi Sawah Terlantar seluas 13.126,85 ha dan Cetak Sawah Baru seluas 18.765,05 ha.
7.        Program Gerakan Riau Menanam Buah (GERINAM BUAH) tahun 2011-2014 melalui kegiatan perluasan areal tanam buah-buahan seluas 10.000 ha di 12 Kab/Kota dengan Pola Pengembangan sebagai berikut: Perluasan Areal Tanam 1.500 Ha; Insensifikasi dan Optimalisasi  Kebun Buah Rakyat  4.500 ha; Penanaman Buah dilahan Pekarangan 4.000 ha.
8.        Dalam mengatasi anomali iklim (iklim ekstrim) yang terjadi pada saat ini, apakah itu pengaruh el nino (kemarau) maupun la nina (hujan) kita harus melakukan segera antisipasi dan langkah-langkah kongkrit untuk pengamanan produksi.
9.        Permasalahan utama kita untuk meningkatkan produksi tanaman pangan dan hortikultura adalah: (1) tingginya angka alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan ke non pertanian tanaman pangan, rata-rata angka alih fungsi lahan selama 8 tahun (tahun 2002 s/d 2009) terakhir sebesar 2.508,71 ha/tahun; (2) Kondisi produktivitas komoditas pertanian primer yang diproduksi petani di sentra-sentra produksi masih jauh di bawah potensi genetiknya, karena belum diterapkannya aplikasi paket teknologi sesuai anjuran. Produktivitas padi masih relatif rendah, produktivitas di tingkat nasional pada tahun 2011 diramalkan sebesar 5,1 ton/ha sedangkan Provinsi Riau sebesar 3,69 ton/ha (Angka Sementara, BPS 2011) dan; (3) keterbatasan daya dukung infrastruktur seperti jaringan irigasi dan jalan produksi.
10.    Faktor kunci agar investor berinvestasi di sub sektor Tanaman Pangan dan Hortikultura adalah melalui upaya kita meyakinkan  mereka bahwa usaha sektor tanaman pangan dan hortikultura sangat menguntungkan. Salah satu upaya kita melalui peningkatan produktivitas. Apabila produktivitas tinggi, maka margin keuntungan yang diperoleh tentunya akan meningkat.
11.    Direktur Sayuran-Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian RI menyataka bahwa Bappenas telah mencanangkan 11 (sebelas) prioritas nasional yang menjadi fokus pembangunan di Indonesia, sektor pertanian masuk ke dalam prioritas ketahanan pangan. Kementerian Pertanian menjabarkan  lebih lanjut ke dalam 4 (empat) target utama yang akan dicapai, diantaranya: Swasembada pangan, peningkatan diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, serta peningkatan kesejahteraan kepada petani.
12.    Sasaran program pengembangan hortikultura di tahun 2012 dan 2013 adalah meningkatnya produksi, produktivitas dan mutu produk tanaman hortikultura yang aman konsumsi, berdaya saing dan berkelanjutan. Khusus untuk tanaman sayuran sasaran utamanya adalah perluasan areal, perbaikan pengelolaan lahan usaha dan penanganan pasca panen sayuran.
13.    Karakteristik komoditas hortikultura adalah bersifat volumunios (membutuhkan tempat yang besar) dan perishable (mudah rusak), sehingga dibutuhkan penanganan pascapanen yang cepat dan tepat. Hal utama yang timbul akibat penanganan yang kurang tepat dan cepat tersebut adalah tingginya kehilangan atau kerusakan hasil. Hal ini disebabkan antara lain penanganan pascapanen produk hortikultura yang masih dilakukan secara tradisional atau konvensional dibandingkan kegiatan pra panen.
14.    Direktorat Sayuran mempunyai komitmen yang tinggi terhadap pengembangan sayuran di Riau. Hal ini sudah dilakukan sejak Riau melakukan pengembangan sayur ekspor kerja sama dengan Singapura. Diharapkan kepada Dinas Pertanian Kabupaten/Kota yang berkeinginan untuk mengembangkan sayuran melalui bantuan APBN agar melengkapinya dengan proposal.
15.    PT. Padi Energi Nusantara (PEN) salah satu anak perusahaan yang dibentuk dari beberapa  Holding Company seperti PT. Pupuk Sriwijaya (PUSRI), PT. Pupuk Kujang, PT. Pupuk Iskandar Muda dll. PT. PEN dibentuk untuk : (a) Meningkatkan kesejahteraan para petani melalui pembentukan   Badan Usaha Milik Petani (BUMP); (b) Membantu para petani dalam penyediaan sarana produksi pertanian serta kawalan teknologi; (c) Mengembangkan dana investasi bersama-sama BUMP untuk usaha lain yang berhubungan dengan BUMP, misalnya usaha perberasan, power plant, distributor, perdagangan, dll.
16.    Dalam rangka mendukung Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) PT. PEN telah ditugaskan oleh Pemerintah untuk melakukan peningkatan produksi beras melalui kegiatan Yarnen (bayar panen), intensifikasi dan ekstensifikasi di beberapa provinsi di Sumatera. Potensi ekstensifikasi di Riau sebanyak 30.000 ha terdapat di Rokan Hilir, Indragiri Hilir dan Siak. Diharapkan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota yang mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai daerah sentra produksi atau daerah pertumbuhan baru tanaman padi agar dapat menyampaikan informasi dan proposal kerjasama dengan PT. PEN dengan segera.
17.    PT. Alamanda Sejati Utama salah satu perusahaan pengkespor komoditi hortikultura nasional yang berkedudukan di Bandung, menyatakan siap melakukan kerja sama dan membantu program Dinas Pertanian Kabupaten/Kota di Riau dalam memasarkan sayur untuk diekspor. Komitmen ini sudah dilakukan oleh PT. Alamanda Sejati Utama di Riau sejak tahun 2007.
18.    Menurut Bappeda Provinsi Riau dalam penyusunan perencanaan pembangunan pertanian yang akan datang, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dan pertimbangan, yaitu :
a.    Rencana yang diusulkan harus sesuai dengan mekanisme yang berlaku, yang dimulai dengan perencanaan dari bawah (bottom up planning).
b.    Rencana yang diusulkan tersebut bukan berdasarkan keinginan, akan tetapi berdasarkan skala prioritas kebutuhan.
c.    Terus mengupayakan pelaksanaan program strategis daerah secara lebih terfokus dan berkoordinasi lintas sektor
d.   Dengan adanya permendagri no. 54 tahun 2010 dan rencana revisi rpjmd provinsi riau, maka setiap skpd diharapkan untuk menyesuaikan renstra skpd masing-masing dengan juga memperhatikan hasil evaluasi renstra
e.     Menyiapkan rencana kerja (renja) skpd tahun 2013 di bulan maret sebagai bahan utama musrenbang tahun 2012.
19.    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, siap melakukan kerja sama pengkajian dan pengembangan teknologi di bidang pertanian tanaman pangan dan hortikultura, sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan oleh Dinas Pertanian kabupaten/Kota. Selain itu khusus untuk mengawal kegiatan SLPTT, pihak BPTP telah menempatkan beberapa petugas sebagai Liaison Officer (LO) di Kabupaten/Kota. Diharapkan kepada Dinas Pertanian Kabupaten/Kota untuk dapat memanfaatkan tenaga-tenaga tersebut.
20.    Untuk Pelaksanaan Musrenbang Tahun 2014, yang akan dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2013, sesuai hasil kesepakatan bersama pada Musrenbang Tahun 2012 di Dumai  akan dilaksanakan di Kabupaten Indragiri Hulu
Sumber Berita : Adry nelson
 Sumber Foto  : Samsul Huda El-Lajawy

Artikel Terkait

1 komentar:

Terima kasih atas kunjungan anda !

.

Anda ingin menjadikan Blog ini menjadi satu Buku, Klik dibawah ini !